CISARUA – Di bawah kepungan kabut tipis dan rintik hujan yang tak kunjung usai, harapan keluarga korban longsor di Kampung Pasirkuning belum padam. Menanggapi jeritan doa yang masih menggantung, Kepala Basarnas, Marsekal Madya (Marsdya) Mohhammad Syafi’i, resmi memutuskan untuk memperpanjang masa pencarian selama tujuh hari ke depan.
Keputusan krusial ini lahir setelah evaluasi mendalam bersama Forkopimda Kabupaten Bandung Barat pada Jumat (30/1/2026). Sesuai dengan SK Bupati Bandung Barat, tim SAR gabungan akan terus bergelut dengan lumpur hingga 6 Februari 2026.
Tarung Nyawa di Bawah “Mahkota” Longsor
Kondisi di lapangan jauh dari kata mudah. Para petugas harus berhadapan dengan ketebalan lumpur yang mencapai 4 hingga 7 meter. Bayangkan, setinggi dua lantai rumah, tanah merah pekat itu mengubur segala yang ada di bawahnya.
“Operasional K9 (anjing pelacak), alat detektor, hingga penggalian manual saat ini tidak maksimal karena hujan terus turun,” ujar Marsdya Mohhammad Syafi’i dengan nada prihatin namun tegas.
Cuaca ekstrem memaksa tim menggunakan strategi on-off operation. Begitu mendung menebal dan ancaman longsor susulan mengintai dari “mahkota” bukit, tim harus segera ditarik mundur demi keselamatan.
Namun, begitu cuaca sedikit bersahabat, mereka kembali terjun tanpa ragu. Kemanusiaan di Atas Segalanya meski medan sangat berat, semangat tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan warga lokal tidak surut. Fokus pencarian kini tertuju pada titik-titik yang dipetakan secara teknis memiliki potensi tinggi ditemukannya korban.
“Operasi SAR akan terus kami lanjutkan selama masih ada harapan. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar cuaca bersahabat sehingga pencarian sisa korban berjalan maksimal,” tegas Syafi’i.
Bagi Basarnas, ini bukan sekadar tugas negara, melainkan misi kemanusiaan untuk memberikan kepastian bagi mereka yang kehilangan. Di tengah visibilitas yang terbatas dan pergerakan tanah yang masih menghantui, mereka memilih untuk bertahan, menolak menyerah pada alam.***
