Simbol Gotong Royong dan Syukur, Intip Panggung Estetik HUT RI ke-81 di Pesantren Kholafiyah Miftahul Hasanah

Komentar
X
Bagikan

SUMEDANG, KABARPAKUAN.COM – Semangat kemerdekaan berpadu harmonis dengan kearifan lokal di Halaman Utama Pesantren Kholafiyah Miftahul Hasanah. Para santri menggelar Malam Puncak Tasyakur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia pada Senin (31/8/2026) malam dengan konsep panggung yang sarat makna.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tata panggung kali ini mengusung estetika bernuansa tradisional. Deretan bambu runcing berdiri kokoh di sisi panggung sebagai simbol perjuangan para pahlawan. Sementara itu, ornamen alat dapur dari anyaman bambu seperti tampah, boboko, dudukuy, dan aseupan tersusun rapi memancarkan nilai gotong royong, kesederhanaan, serta kemandirian santri.

Rangkaian acara diawali pembacaan Khotmil Qur’an usai ibadah Maghrib. Agenda ini dihadiri langsung oleh Pengasuh Pesantren KH. Shofwan Wahyudin beserta keluarga besar, jajaran Asatidz dan Asatidzah SMP IT dan MA Plus Miftahul Hasanah, pengurus, santriwan-santriwati, wali santri, hingga tamu undangan.

Makna Merdeka Versi Santri

Dalam sambutan tunggalnya, Ketua Panitia Ahmad Dwi Fauzan menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran gelaran tersebut.

“Atas nama panitia, saya menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya kepada para ustadz, dewan guru, pengurus, santri, hingga wali santri. Tanpa dukungan, doa, tenaga, maupun materi dari panjenengan sekalian, agenda ini tidak akan dapat terlaksana,” tutur Ahmad.

Ahmad juga mengajak hadirin meresapi tema nasional kemerdekaan yang diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama santri Kholafiyah:

Merdeka Ibadah: Kedisiplinan menunaikan shalat lima waktu, mengaji, dan berkhidmat. Santri yang merdeka adalah santri yang taat.

Merdeka Ilmu: Semangat menuntut, mengamalkan, serta mengajarkan ilmu demi mencetak generasi syahsiyah thoyyibah.

Merdeka Akhlak: Menjaga adab kepada guru, negara, dan sesama, karena kemerdekaan tanpa akhlak hanya akan melahirkan kebebasan yang liar.

Seni dan Hikmah Kemerdekaan

Malam puncak tasyakur kian semarak melalui berbagai penampilan karya santri. Pentas seni diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, gema sholawat, nasyid kebangsaan, pertunjukan kabaret, pembacaan puisi “Republik Indonesia” karya Muhammad Yamin, hingga pementasan drama kolosal perjuangan kemerdekaan.

Acara kemudian dipungkasi dengan pengarahan serta uraian hikmah kemerdekaan oleh KH. Shofwan Wahyudin beserta istri.

Melalui perpaduan dekorasi bambu runcing dan peralatan dapur tradisional ini, Pesantren Miftahul Hasanah membuktikan komitmennya untuk tidak hanya membentuk generasi unggul secara intelektual dan spiritual, tetapi juga menempa santri yang berjiwa nasionalis serta bangga akan kebudayaan bangsa.***