SUMEDANG, KABARPAKUAN.ID — Tiga puluh tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengubah segalanya, namun tidak bagi ingatan tentang masa putih abu-abu. Tepat hari ini, Minggu (28/6/2026), Wisata Alam Pangjugjugan, Pamulihan, menjadi saksi bisu pecahnya rindu yang selama puluhan tahun tertahan di dada para alumni SMAN Tanjungsari Angkatan 1996.
Suasana Pangjugjugan yang asri mendadak riuh oleh tawa, pelukan hangat, dan tetes air mata yang tak terbendung saat satu per satu sahabat lama saling menatap wajah. Mereka datang dari berbagai daerah, melintasi jarak dan waktu, hanya untuk satu tujuan: “kembali menjadi remaja 30 tahun silam”.
Kehangatan suasana kian lengkap dengan hadirnya sosok-sosok istimewa yang menjadi bagian penting dalam sejarah masa sekolah mereka. Para guru angkatan 96 tampak hadir di tengah-tengah alumni, duduk bersama dan menyapa murid-muridnya yang kini telah beranjak tua.
Kehadiran para pahlawan tanpa tanda jasa ini menjadi magnet tersendiri yang membuat suasana menjadi semakin sakral dan penuh hormat.
Di tengah suasana yang penuh haru, Azis Abdullah, selaku Ketua Pelaksana melangkah ke depan.
Suaranya sempat terhenti sejenak, menahan getar di dada saat memandang barisan sahabat yang kini telah menapaki usia paruh baya.
”Sahabat-sahabatku seperjuangan, 30 tahun lalu kita melepas seragam putih abu-abu dengan janji yang mungkin sempat terlupa oleh tuntutan hidup. Hari ini, saya berdiri di sini, menatap wajah-wajah yang mungkin telah digores garis usia, namun saya melihat binar mata yang sama. Binar anak muda penuh mimpi yang pernah kita bagi di kelas yang sama,” ujar Azis dengan nada yang begitu menyentuh.
“Reuni ini adalah tentang pulang. Pulang ke titik di mana kita pernah saling menjaga, pernah berbagi bekal makan siang, dan pernah menangis bersama karena tekanan pelajaran. Terima kasih telah melunasi janji rindu ini. Mari kita hapus sejenak sekat status sosial dan jabatan kita di luar sana. Di sini, kita hanyalah teman lama yang rindu untuk kembali saling memeluk sebagai keluarga.”
Azis menegaskan bahwa reuni ini bukan sekadar ajang pamer pencapaian. Panitia telah merancang rangkaian acara yang menyentuh esensi silaturahmi. Selain diisi dengan gelak tawa melalui permainan ringan dan iringan musik organ tunggal, acara ini juga menjadi wadah aksi sosial.
“Kami ingin pertemuan ini meninggalkan jejak kebaikan. Selain santunan sebagai bentuk kepedulian, kami berharap momen ini membuka ruang diskusi, baik untuk berbagi peluang bisnis maupun dukungan moril bagi sesama. Kita ingin IKA SMAN Tanjungsari 96 bukan sekadar nama, melainkan rumah yang terus memberi manfaat bagi anggotanya,” tegasnya.
Salah seorang alumni, Dony tampak tak kuasa menutupi rasa harunya. Baginya, pertemuan ini adalah penyembuh atas kerinduan yang selama ini hanya bisa ia curahkan melalui lamunan.
“Tiga puluh tahun itu waktu yang sangat panjang untuk menyimpan rindu. Saat tadi bertemu, rasanya seperti waktu diputar kembali ke tahun 96. Saya teringat cerita-cerita konyol saat bolos sekolah, hingga nasihat guru yang dulu kita anggap cerewet namun kini sangat kita rindukan. Melihat teman-teman dan guru-guru kita duduk bersama hari ini… ini adalah momen terindah yang tak bisa dibayar dengan apa pun,” tutur Dony dengan mata berkaca-kaca.
Acara yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan ini ditutup dengan doa bersama.
Harapan besar tersemat di benak setiap alumni: semoga silaturahmi yang sudah dirajut kembali hari ini tidak akan pernah putus lagi, dan semoga persaudaraan mereka terus terjalin hingga masa tua nanti.***
