Abuya Muhyiddin: Lebaran Harus Jadi Momentum Memperbaiki Tekad dan Amal

Komentar
X
Bagikan

KABARPAKUAN.COM– Pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syifaa wal Mahmudiyyah, Abuya KH Muhyiddin Abdul Qadir Al-Manafi, mengingatkan umat Islam agar memaknai Idulfitri bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi momentum memperbaiki diri dan memperkuat tekad dalam beribadah.

Dalam pesannya dari Madinah Al-Munawwarah beberapa waktu lalu, Abuya menegaskan bahwa esensi Lebaran bukanlah sibuk berganti pakaian baru atau mempersiapkan berbagai hidangan.

“Lebaran bukan sekadar ganti-ganti baju baru, tetapi mengganti tekad dan memperbaiki langkah hidup agar menjadi lebih benar,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat sering kali terlalu sibuk memikirkan rekreasi, makanan, dan kue-kue Lebaran. Padahal yang seharusnya lebih dipikirkan adalah bekal amal untuk kehidupan setelah kematian.

“Lebaran bukan riweuh memikirkan piknik, tumis, dan kue, tetapi harus sibuk memperbanyak amal sebagai bekal ketika kita meninggal,” tuturnya.

Abuya juga mengingatkan agar semangat ibadah yang dijalankan selama Ramadan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir. Ia berharap umat Islam tetap menjaga istiqomah dalam menjalankan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan berbagai amalan kebaikan lainnya.

“Lebaran bukan berarti selesai puasa, selesai salat malam, dan selesai berjamaah. Justru harus memperkuat tekad untuk terus melanjutkan amal secara istiqomah,” katanya.

Ia menilai, dalam kehidupan sehari-hari sering terlihat kesibukan berlebihan dalam urusan dunia saat Lebaran, namun perhatian terhadap ibadah justru berkurang.

“Sering kali kita sibuk dengan urusan dunia saat Lebaran, tetapi ketika waktunya salat berjamaah dan membaca Al-Qur’an justru sepi,” ungkapnya dilaporkan Azis Abdullah wartawan KAPOL.ID jejaring Kabar Pakuan.

Lebih lanjut Abuya menegaskan bahwa hari kemenangan sejatinya diperuntukkan bagi orang-orang yang berhasil melawan hawa nafsu dan godaan setan selama Ramadan, bukan bagi mereka yang lalai dan bermalas-malasan.

“Hari kemenangan adalah untuk mereka yang mampu memerangi hawa nafsu dan setan, bukan bagi yang durhaka dan malas,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar Al-Qur’an tidak hanya menjadi hiasan di rak atau lemari, tetapi harus dibaca, direnungi, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Al-Qur’an bukan pajangan di rak dan lemari. Al-Qur’an harus dibaca, dipahami, dan diamalkan agar membawa keselamatan,” pungkasnya. ***