Sony Sonjaya: Perluas Jangkauan Gizi, BGN Prioritaskan Pembangunan Dapur SPPG di Wilayah Terpencil

Komentar
X
Bagikan

JAKARTA, KABARPAKUAN.com – Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat dalam memastikan pemerataan akses nutrisi di seluruh pelosok negeri.

Pada Selasa (7/4), BGN secara resmi menggelar Sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Terpencil guna mendukung akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program MBG kini menjadi pilar strategis pemerintah dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat secara nasional. Fokus utama kebijakan ini diarahkan pada kelompok rentan, yakni anak-anak, ibu hamil, serta ibu menyusui, guna menciptakan generasi masa depan yang lebih berkualitas.

Dalam implementasinya, SPPG memiliki peran krusial sebagai unit pelayanan teknis. Keberadaan SPPG menjamin bahwa setiap porsi makanan yang sampai ke tangan masyarakat telah melalui proses pengolahan yang ketat dan sesuai dengan standar nutrisi yang ditetapkan.

“SPPG adalah garda terdepan. Kami harus memastikan penyediaan makanan bergizi tidak hanya soal kuantitas, tapi juga kualitas yang terstandarisasi,”

Tantangan geografis menjadi poin utama yang dibahas dalam sosialisasi ini. BGN menekankan pentingnya membangun infrastruktur dapur SPPG yang tangguh, khususnya di wilayah-wilayah terpencil (3T). Langkah ini diambil agar layanan MBG tetap berjalan optimal tanpa terganggu oleh:

Distribusi bahan pangan ke wilayah sulit. Kondisi cuaca ekstrem yang kerap menghambat mobilitas. ketahanan operasional saat terjadi keadaan luar biasa di lapangan.

BGN menegaskan bahwa jarak tidak boleh menjadi penghalang bagi warga negara untuk mendapatkan gizi yang layak. Dengan semangat inklusivitas, program ini dipastikan akan menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

“Program ini harus menjangkau semua. Tanpa terkecuali, tanpa hambatan,” tegas Wakil BGN, Sony Sonjaya menutup arahan strategis tersebut.

Dengan pembangunan SPPG yang terintegrasi di wilayah terpencil, pemerintah optimis angka stunting dan masalah gizi di Indonesia dapat ditekan secara signifikan melalui intervensi pangan yang berkelanjutan.***